Gaming

Mengulas tentang dunia Game

Sejarah

Mengulas berbagai sejarah di dunia

Indonesia

Mengulas tentang Negara Indonesia

Pembelajaran materi dan Tutorial

Memberikan Materi dan Tutorial

Dan Lain-Lain

Mengulas berbagai hal lain...

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, January 30, 2016

Rencana Hitler menghancurkan New York


Rencana Hitler Hancurkan New York Sebelum Tragedi WTC | Un1x Project |Ini kisah tentang seorang pria 'gila' yang memimpikan kehancuran New York. Di benaknya, ia melihat adegan apokaliptik gedung pencakar langit menyala seperti obor raksasa, bangunan-bangunan yang rubuh, orang-orang ketakutan panik bukan kepalang dengan iman yang terguncang. 'Dewa-dewa' mereka, kapitalisme dan demokrasi, tidak bisa berbuat apapun.


Quote:

Benar, adegan itu memang sudah terjadi, dalam insiden teror 11 September 2001 atau yang dikenal sebagai 9/11. Kala itu Osama Bin Laden dan gerombolannya melaksanakan aksi serangan bunuh diri Menara Kembar WTC.


Yang tak banyak diketahui publik, lebih dari setengah abad sebelumnya, 56 tahun lalu, seorang pria sudah memimpikannya: Adolf Hitler.
Daily Mail, Jumat (13/12/2013), sekitar 4.000 mil (6.437 km) dari New York, tepatnya di Berlin, Hitler meminta para ilmuwan dan insinyurnya untuk membuat keinginan itu tercapai. Melalui perantaraan bom.





Skema yang mereka susun di antaranya pesawat kamikaze yang diarahkan ke jantung Manhattan, menabrak target dan menyebabkan kematian massal dan kerusakan -- mirip adegan 9/11.
Meski rencana horor itu tak pernah tercapai, namun ketika akhirnya terkuak ke publik, itu sama sekali tak terduga.
Sebab, selama bertahun-tahun Sang Fuhrer bersikap hati-hati dengan Amerika Serikat, berusaha tidak memprovokasi permusuhan. Di depan publik Hitlermengaku Amerika adalah temannya. Namun itu bukan sikap sesungguhnya. Pemimpin Nazi itu membenci demokrasi ala AS, penduduknya yang memiliki ras campuran, dan banyaknya bankir Yahudi di Manhattan.
Pada awal 1937, Hitler luar biasa bersemangat ketika Willy Messerschmitt, desainer pesawat yang jenius, meluncurkan desain pesawat bomber jarak jauh yang dikembangkan di pabriknya di Augsburg, Jerman selatan.
Raksasa bermesin empat yang diberi nama Me 264 kepada publik seolah-olah ditujukan untuk mendukung operasi kapal selam Jerman di Lautan Atlantik. Namun, pada Hilter, Messerschmitt mengatakan bombernya berpotensi mencapai perairan AS. Perintah pun dikeluarkan: Laksanakan!
Masalah teknis jadi tantangan utama. Yaitu, bagaimana cara bom seberat 3 ton diangkut dalam penerbangan nonstop ke New York. Insinyur terbaik Messerschmitt dikerahkan untuk mewujudkannya.
Sementara perang bergelora di Eropa, pasukan Jerman dikerahkan ke barat dan timur, mewujudkan ambisi Hitler menguasai dunia. Pada 1941, Prancis kalah, Inggris dan Uni Soviet dikepung. Amerika Serikat tinggal selangkah.
Namun, Me 264 sama sekali tak mudah diwujudkan. Terlalu rumit. Pesawat itu harus ringan untuk melintasi Atlantik tapi cukup kokoh untuk membawa beban berat, dan tangkas untuk mempertahankan diri. Persamaan aerodinamis kala itu tak ada yang cocok.





Salah satu solusinya adalah untuk mempersingkat perjalanan Me 264 dengan mendirikan pos pengisian bahan bakar dan perbaikan. Untuk tujuan ini, Hitler memerintahkan angkatan laut untuk merebut Islandia - yang berada di tengah daratan Eropa dan Amerika .
Namun, pada pertengahan 1941, AS yang masih netral sudah menyadari bahaya mendekat, dan mengambil alih pertahanan Islandia untuk menangkal niat Jerman. Kemudian pada tahun yang sama, menanggapi serangan Jepang atas Pearl Harbour, AS bergabung dalam perang. Hitler pun murka dan mengeluarkan kebencian terpendamnya, mengecam Presiden Roosevelt dan ' lingkaran setan' orang-orang Yahudi di sekelilingnya sebagai penghasut perang dan pembohong.
Sementara Me 264 belum rampung, ia mencoba cara lain. Pada Mei 1942, sebuah tim beranggotakan empat anggota pasukan komando Jerman naik kapal selam dan mendarat di pantai Long Island, hanya beberapa mil dari New York. Dengan mengenakan pakaian sipil dan membawa dinamit, mereka naik kereta api komuter ke kota dan bersembunyi di sebuah hotel .
FBI yang mendapat laporan dari penjaga pantai gagal menangkap mereka. Namun, pimpinan komando Jerman, John Dasch malah menyerahkan diri ke AS dan membongkar rencana Hilter.





Bos FBI kala itu, J. Edgar Hoover mengumumkan kepada publik Amerika keberhasilan anak buahnya menghentikan niat para penyusup -- yang punya misi menyerang pabrik amunisi.
Namun FBI tak berterus terang agar publik tak panik. Tujuan komando Jerman nyatanya adalah menyerang target sipil seperti Grand Central Station.
Kembali di Jerman, sebuah prototipe Me 264 akhirnya rampung tapi terbukti tidak stabil dan hampir mustahil untuk menjalani tes terbang. Tak cuma itu, ada kecenderungan mesin jatuh. Upaya Willy Messerschmitt membuat senjata untuk membuat AS bertekuk lutut gagal total. Taktik lain Ide baru pun dicari. Saat itu, Kolonel Viktor von Lossberg, melangkah maju dengan rencana berani. Ia mengajukan diri untuk menerbangkan pesawat ke tengah Atlantik, di mana ia akan mendarat di atas air dan melakukan kontak dengan kapal selam yang membawa bom dan bahan bakar ekstra yang ia butuhkan untuk sisa penerbangannya ke pantai Amerika . Setelah membom New York, ia akan bertemu dengan kapal selam di tengah laut lagi untuk mengisi bahan bakar dan kembali membawa kemenangan ke Jerman. Namun, rencana itu juga gagal. AS lebih dulu membatasi gerak armada Jerman di Atlantik.
Cara lain adalah menggunakan pesawat penumpang jarak jauh Condor -- bikinan Focke-Wulf yang pernah menempuh perjalanan Berlin-New York pada 1938 dengan waktu 25 jam. Namun tanpa pengisian bahan bakar, pesawat itu hanya bisa sekali jalan.
Dr Fritz Nallinger dari Daimler-Benz punya ide gila. Bahan peledak diangkut di dalam pesawat Condor dan diterbangkan ke New York. Setelah menyetel pesawat agar jatuh di New York, pilot akan melarikan diri dengan parasut dan selamat-- itu kalau ia beruntung. Namun, Condor terlalu lambat dan terlalu mudah ditembak jatuh oleh tentara AS. Gagal.
Ketika Jerman mengalami kesulitan militer, pilot tempur Luftwaffe yang mulai kehabisan amunisi menggunakan teknik ala kamikaze. Nallinger menggambar sketsa pesawat perkasa dengan rentang sayap kolosal, yang akan dimuati bom, dan diterbangkan ke Manhattan -- ibukota perdagangan AS -- dalam misi bunuh diri.
Ini yang di dicatat Speer dalam buku hariannya: "Hitler berharap New York berada di tengah lautan api, gedung pencakar langit berubah menjadi obor raksasa dan runtuh. Kota meledak, membara menerangi langit malam."
Pada 1945, komandan Luftwaffe sekaligus wakil Hitler, Goering menyetujui rencana itu. Tapi terlambat...meski ada banyak tentara yang mau mengorbankan nyawa untuk melakukan misi itu, tak ada waktu untuk mewujudkannya.
Dalam bunker di Berlin, dalam kepungan Rusia dengan bala tentaranya berantakan,Hitler masih bermimpi balas dendam.
Albert Speer, menteri persenjataannya, mengingat bagaimana Hitler minta dia menayangkan film London dan Warsawa berkobar akibat digempur bom. Ia berharap Amerika bernasib sama.

Tuesday, October 20, 2015

Operasi Trikora


Operasi Trikora
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Konflik Papua Bag
ian Barat

Peta Papua bagian barat pada tahun 1960-an

Tanggal 19 Desember 1961 - 15 Agustus1962
Lokasi Papua bagian barat
Hasil Papua bagian barat digabungkan kepada Indonesia.
Casus belli Indonesia dan Belandamemperebutkan daerah Papua bagian barat

Pihak yang terlibat
Indonesia Belanda
Komandan
Soekarno
Soeharto


Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor JenderalSoeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.


Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayahHindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satuprovinsi Kerajaan Belanda. Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat, namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu 1 tahun.
Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak. Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.
Pada tanggal 6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.
Persiapan[sunting | sunting sumber]
Militer[sunting | sunting sumber]

KRI Irian, Penjelajah kelas Sverdlov

Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Indonesia mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat, namun gagal. Akhirnya, pada bulan Desember 1960, Jendral A. H. Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliardollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan. [1] Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, DC menganggap hal ini akan "menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat". Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunisSoviet bila tidak mendapat dukungan AS.
Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat), 30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19, 20 pesawat pemburu supersonikMiG-21, 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet, dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat.[1]
Diplomasi[sunting | sunting sumber]

Indonesia mendekati negara-negara seperti India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Britania Raya, Jerman, dan Perancisagar mereka tidak memberi dukungan kepada Belanda jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda. Dalam Sidang Umum PBBtahun 1961, Sekjen PBB U Thant meminta Ellsworth Bunker, diplomat dari Amerika Serikat, untuk mengajukan usul tentang penyelesaian masalah status Papua bagian barat. Bunker mengusulkan agar Belanda menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia melalui PBB dalam jangka waktu 2 tahun.
Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 27 Desember 1958, presiden Soekarno mengeluarkan UU nomor 86 tahun 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi seperti:
Perusahaan Perkebunan
Nederlandsche Handel-Maatschappij
Perusahaan Listrik
Perusahaan Perminyakan
Rumah Sakit (CBZ) manjadi RSCM

Dan kebijakan-kebijakan lain seperti:
Memindahkan pasar pelelangan tembakau Indonesia ke Bremen (Jerman Barat)
Aksi mogok buruh perusahaan Belanda di Indonesia
Melarang KLM (maskapai penerbangan Belanda) melintas di wilayah Indonesia
Melarang pemutaran film-film berbahasa Belanda
Konfrontasi Total[sunting | sunting sumber]

Sesuai dengan perkembangan situasi Trikora diperjelas dengan Instruksi Panglima Besar Komodor Tertinggi Pembebasan Irian Barat No.1 kepada Panglima Mandala yang isinya sebagai berikut:
Merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia.
Mengembangkan situasi di Provinsi Irian Barat sesuai dengan perjuangan di bidang diplomasi dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya di Wilayah Irian Barat dapat secara de facto diciptakan daerah-daerah bebas atau ada unsur kekuasaan/ pemerintah daerah Republik Indonesia.

Strategi yang disusun oleh Panglima Mandala guna melaksanakan instruksi tersebut.
Tahap Infiltrasi (penyusupan) (sampai akhir 1962),yaitu dengan memasukkan 10 kompi di sekitar sasaran-sasaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas de facto yang kuat sehingga sulit dihancurkan oleh musuh dan mengembangkan pengusaan wilayah dengan membawa serta rakyat Irian Barat.
Tahap Eksploitasi (awal 1963),yaitu mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan dan menduduki semua pos-pos pertahanan musuh yang penting.
Tahap Konsolidasi (awal 1964),yaitu dengan menunjukkan kekuasaan dan menegakkan kedaulatan Republik Indonesia secara mutlak di seluruh Irian Barat.

Pelaksanaannya Indonesia menjalankan tahap infiltasi, selanjutnya melaksanakan operasi Jayawijaya, tetapi sebelum terlaksana pada 18 Agustus 1962 ada sebuah perintah dari presiden untuk menghentikan tembak-menembak.
Konflik bersenjata[sunting | sunting sumber]

Soekarno, Presiden Indonesia yang mencetuskan Trikora

Soekarno membentuk Komando Mandala, dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Tugas komando Mandala adalah untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal induk Hr. Ms. Karel Doorman ke Papua bagian barat. Angkatan Laut Belanda (Koninklijke Marine) menjadi tulang punggung pertahanan di perairan Papua bagian barat, dan sampai tahun 1950, unsur-unsur pertahanan Papua Barat terdiri dari:
Koninklijke Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda)
Korps Mariniers
Marine Luchtvaartdienst[2]

Keadaan ini berubah sejak tahun 1958, di mana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst. Selain itu, batalyon infantri 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland yang terdiri dari 3 batalyon yang ditempatkan di Sorong, Fakfak, Merauke, Kaimana, danTeminabuan.[2]
Operasi-operasi Indonesia[sunting | sunting sumber]

Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Papua bagian barat. Walaupun Trikora telah dikeluarkan, namun misi itu dilaksanakan sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan.
Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali belum siap, bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa. Walaupun begitu, TNI Angkatan Darat lebih dulu melakukan penyusupan sukarelawan, dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Papua bagian barat, dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang ditentukan oleh TNI AL.
Misi itu sangat rahasia, sehingga hanya ada beberapa petinggi di markas besar TNI AU yang mengetahui tentang misi ini. Walaupun misi ini sebenarnya tidaklah rumit, TNI AU hanya bertugas untuk mengangkut pasukan dengan pesawat Hercules, hal lainnya tidak menjadi tanggung jawab TNI AU.
Kepolisian Republik Indonesia juga menyiapkan pasukan Brigade Mobil yang tersusun dalam beberapa resimen tim pertempuran (RTP). Beberapa RTP Brimob ini digelar di kepulauan Ambon sebagai persiapan menyerbu ke Papua bagian barat. Sementara itu Resimen Pelopor (unit parakomando Brimob) yang dipimpin Inspektur Tingkat IAnton Soedjarwo disiagakan di Pulau Gorom. Satu tim Menpor kemudian berhasil menyusup ke Papua bagian barat melalui laut dengan mendarat di Fakfak. Tim Menpor ini terus masuk jauh ke pedalaman Papua bagian barat melakukan sabotase dan penghancuran objek-objek vital milik Belanda.
Pada tanggal 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. Pesawat Hercules kembali ke pangkalan. Namun, pada tanggal 18 Januari 1962, pimpinan angkatan lain melapor ke Soekarno bahwa karena tidak ada perlindungan dari TNI AU, sebuah operasi menjadi gagal.[3]
Pertempuran laut Aru[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pertempuran Laut Aru
Berkas:Yos Sudarso.jpg
Komodor Yos Sudarso yang tenggelam di Laut Aru pada saat terjadinya Pertempuran Laut Aru.

Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutulyang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 4°49' LS dan 135°02' BT. Menjelang pukul 21:00 WIT, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. Tanda itu tidak bergerak, dimana berarti kapal itu sedang berhenti. Ketika 3 KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut.[3]
Kapal Belanda menembakan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau. Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Yos Sudarso memerintahkan untuk mundur, namun kendali KRI Macan Tutul macet, sehingga kapal itu terus membelok ke kanan.[3] Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".
Operasi penerjunan penerbang Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. Mereka diterjunkan di daerah pedalaman Papua bagian barat. Penerjunan tersebut menggunakan pesawat angkut Indonesia, namun operasi ini hanya mengandalkan faktor pendadakan, sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. Penerjunan itu pada awalnya dilaksanakan dengan menggunakan pesawat angkut ringan C-47 Dakota yang kapasitas 18 penerjun, namun karena keterbatasan kemampuannya, penerjunan itu dapat dicegat oleh pesawat pemburu Neptune Belanda.[1]
Pada tanggal 19 Mei 1962, sekitar 81 penerjun payung terbang dari Bandar Udara Pattimura, Ambon, dengan menaiki pesawat Hercules menuju daerah sekitar Kota Teminabuan untuk melakukan penerjunan. Saat persiapan keberangkatan, komandan pasukan menyampaikan bahwa mereka akan diterjunkan di sebuah perkebunan teh, selain itu juga disampaikan sandi-sandi panggilan, kode pengenal teman, dan lokasi titik kumpul, lalu mengadakan pemeriksaan kelengkapan perlengkapan anggotanya sebelum masuk ke pesawat Hercules. Pada pukul 03:30 WIT, pesawat Hercules yang dikemudikan Mayor Udara T.Z. Abidin terbang menuju daerah Teminabuan.
Dalam waktu tidak lebih dari 1 menit, proses pendaratan 81 penerjun payung selesai dan pesawat Hercules segera meninggalkan daerah Teminabuan. Keempat mesin Allison T56A-15 C-130B Hercules terbang menanjak untuk mencapai ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh pesawat Neptune milik Belanda.[1]
TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia.[4] Lebih dari 100 kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.
Akhir dari konflik[sunting | sunting sumber]

Karena kekhawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil keuntungan dalam konfik ini, Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding dengan Indonesia. Karena usaha ini, tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua, juga mengubah pendiriannya, dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan AS.[5][6]
Persetujuan New York[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili olehSoebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Isi dari Persetujuan New York adalah:
Belanda akan menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), yang didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. UNTEA kemudian akan menyerahkan pemerintahan kepada Indonesia.
Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan.
Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah.
UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani keamanan. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa peralihan.
Indonesia, dengan bantuan PBB, akan memberikan kesempatan bagi penduduk Papua bagian barat untuk mengambil keputusan secara bebas melalui
musyawarah dengan perwakilan penduduk Papua bagian barat
penetapan tanggal penentuan pendapat
perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai kehendak penduduk Papua untuk
tetap bergabung dengan Indonesia; atau
memisahkan diri dari Indonesia
hak semua penduduk dewasa, laki-laki dan perempuan, untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan diadakan sesuai dengan standar internasional
Penentuan pendapat akan diadakan sebelum akhir tahun 1969.

Pada tanggal 1 Mei 1963, UNTEA menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada Indonesia. Ibukota Hollandia dinamai Kota Baru, dan pada 5 September 1963, Papua bagian barat dinyatakan sebagai "daerah karantina". Pemerintah Indonesia membubarkan Dewan Papua dan melarang bendera Papua dan lagu kebangsaan Papua. Keputusan ini ditentang oleh banyak pihak di Papua, dan melahirkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1965. Untuk meredam gerakan ini, dilaporkan bahwa pemerintah Indonesia melakukan berbagai tindakan pembunuhan, penahanan, penyiksaan, dan pemboman udara. Menurut Amnesty International, lebih dari 100.000 orang Papua telah tewas dalam kekerasan ini. OPM sendiri juga memiliki tentara dan telah melakukan berbagai tindakan kekerasan.
Penentuan Pendapat Rakyat[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1969, diselenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang diatur oleh Jenderal Sarwo Edhi Wibowo. Menurut anggota OPM Moses Werror, beberapa minggu sebelum Pepera, angkatan bersenjata Indonesia menangkap para pemimpin rakyat Papua dan mencoba membujuk mereka dengan cara sogokan dan ancaman untuk memilih penggabungan dengan Indonesia.[7][8]
Pepera ini disaksikan oleh dua utusan PBB, namun mereka meninggalkan Papua setelah 200 suara (dari 1054) untuk integrasi.[9] Hasil PEPERA adalah Papua bergabung dengan Indonesia, namun keputusan ini dicurigai oleh Organisasi Papua Merdeka dan berbagai pengamat independen lainnya. Walaupun demikian, Amerika Serikat, yang tidak ingin Indonesia bergabung dengan pihak komunis Uni Soviet, mendukung hasil ini, dan Papua bagian barat menjadi provinsi ke-26 Indonesia, dengan nama Irian Jaya.
Setelah penggabungan[sunting | sunting sumber]

Patung di Jakarta untuk merayakan "pembebasan" Papua barat.

Setelah Papua bagian barat digabungkan dengan Indonesia sebagai Irian Jaya, Indonesia mengambil posisi sebagai berikut:
Papua bagian barat telah menjadi daerah Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1945 namun masih dipegang oleh Belanda
Belanda berjanji menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar
penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia adalah tindakan merebut kembali daerah Indonesia yang dikuasai Belanda
penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia adalah kehendak rakyat Papua.

Hal ini diajarkan di sekolah dan ditulis dalam buku teks sejarah nasional.[1][2]
Setelah Jendral Soeharto menjadi Presiden Indonesia, Freeport Sulphur adalah perusahaan asing pertama yang diberi izin tambang dengan jangka waktu 30 tahun mulai dari tahun 1981 (walaupun tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1972), dan kontrak ini diperpanjang pada tahun 1991 sampai tahun 2041. Setelah pembukaan tambang Grasberg pada tahun 1988, tambang ini menjadi tambang emas terbesar di dunia. Penduduk setempat dengan bantuan Organisasi Papua Merdeka memprotes berbagai tindakan pencemaran lingkungan hidup dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan Freeport dan pemerintah Indonesia dengan berbagai cara, termasuk peledakan pipa gas dan penculikan beberapa pegawai Freeport dari Eropa dan Indonesia pada tahun 1996. Dalam kejadian ini, 2 tawanan dibunuh dan sisanya dibebaskan.
Pada tahun 1980-an, Indonesia memulai gerakan transmigrasi, di mana puluhan ribu orang dari pulau Jawa dan Sumatera dipindahkan ke provinsi Irian Jaya dalam jangka waktu 10 tahun. Penentang program ini mencurigai usaha Indonesia untuk mendominasi provinsi Irian Jaya dengan cara memasukkan pengaruh pemerintah pusat.[10][11][12] Pada tahun 2000, presiden Abdurrahman Wahid memberi otonomi khusus kepada provinsi Papua untuk meredam usaha separatis. Provinsi ini kemudian dibagi dua menjadi provinsi: Papua dan Irian Jaya Barat (sekarang Papua Barat) melalui instruksi Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001.

Pertempuran Laut Aru

Pertempuran Laut Aru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia beba
Pertempuran Laut Aru
Bagian dari Operasi Trikora
RI Matjan Tutul
RI Matjan Tutul (650)
Tanggal15 Januari 1962
LokasiLaut Arafura, Indonesia
HasilRI Matjan Tutul tenggelam, 2 lainnya berhasil selamat
Pihak yang terlibat
 Indonesia Belanda
Komandan
Komodor Yos Sudarso
Kolonel Sudomo
Kekuatan
RI Matjan Tutul
RI Matjan Kumbang
RI Harimau
Hr. Ms. Evertsen
Hr. Ms. Kortenaer
Hr. Ms. Utrecht
didukung P-2 Neptune dan jenis Frely
Korban
Komodor Yos Sudarso
Kapten Wiratno (Kapten kapal RI Matjan Tutul)
Kapten Memet Sastrawiria(Ajudan Komodor Yos Sudarso)
Kapten Tjiptadi
21 orang tenggelam
53 orang ditahan Belanda
-
Pertempuran Laut Aru adalah suatu pertempuran yang terjadi di Laut Aru, Maluku, pada tanggal 15 Januari 1962antara Indonesia dan Belanda. Insiden ini terjadi sewaktu dua kapal jenis destroyer, pesawat jenis Neptune dan Frelymilik Belanda menyerang RI Matjan Tutul (650), RI Matjan Kumbang (653) dan RI Harimau (654) milik Indonesia yang sedang berpatroli pada posisi 04,49° LS dan 135,02° BT. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".
Armada Indonesia di bawah pimpinan Yos Sudarso, yang saat itu berada di KRI Macan Tutul, berhasil melakukan manuver untuk mengalihkan perhatian musuh sehingga hanya memusatkan penyerangan ke KRI Macan Tutul. KRI Macan Tutul tenggelam beserta awaknya, tapi kedua kapal lainnya berhasil selamat.

Pertempuran Laut Aru[sunting | sunting sumber]

Hari H untuk pelaksanaan operasi penyusupan adalah Senin, 15 Januari 1962. Pada H minus tiga (-3), semua kapalALRI telah merapat di rendezvous point di sebuah pulau di Kepulauan Aru. Pasukan yang sudah diturunkan dari Hercules AURI juga sudah diangkut kapal dari Letfuan menuju pulau tersebut. Pada hari pertama di titik itu, pesawat-pesawat Belanda sudah datang mengintai. Hal yang sama terjadi pada H -2 dan H -1.
Hari H pukul 17.00 waktu setempat, tiga kapal mulai bergerak. KRI Harimau berada di depan, membawa antara lain Kol. Sudomo, Kol. Mursyid, dan Kapten Tondomulyo. Di belakangnya adalah KRI Macan Tutul yang dinaiki Komodor Yos Sudarso. Sedangkan di belakang adalah KRI Macan Kumbang.
Menjelang pukul 21.00, Kol. Mursyid melihat radar blips pada lintasan depan yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di sebelah kanan dan satu di kiri. Blips tersebut tidak bergerak, menandakan kapal-kapal sedang berhenti. Ketiga KRI kemudian melaju. Tiba-tiba terdengar dengung pesawat mendekat, lalu menjatuhkan flare yang tergantung pada parasut. Keadaan tiba-tiba menjadi terang-benderang, dalam waktu cukup lama. Tiga kapal Belanda yang berukuran lebih besar ternyata sudah menunggu kedatangan ketiga KRI.
Kapal Belanda melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kol. Sudomo memerintahkan untuk balas menembak namun tidak mengenai sasaran. Komodor Yos Sudarso memerintahkan ketiga KRI untuk kembali. Ketiga kapal pun serentak membelok 180o. Naas, KRI Macan Tutul macet dan terus membelok ke kanan. Kapal-kapal Belanda mengira manuver berputar itu untuk menyerang mereka. Sehingga mereka langsung menembaki kapal itu. Tembakan pertama meleset, namun tembakan kedua tepat mengenai KRI Macan Tutul. Menjelang tembakan telak menghantam kapal, Komodor Yos Sudarso meneriakkan perintah, "Kobarkan semangat pertempuran!"
AURI berada dalam kondisi ditekan karena misi yang gagal itu. Orang mengira, kekuatan AURI mampu melayang-layang selamanya di udara dan mengawasi setiap jengkal wilayah RI. Bahkan operasi itu sendiri tidak pernah dibicarakan dengan pimpinan AURI. Namun saat gagal, kesalahan ditimpakan ke pihak AURI. Untuk mengakhiri polemik, KSAU Soerjadi Soerjadarma mengundurkan diri pada 19 Januari 1962.

Wednesday, September 30, 2015

Sejarah Pertempuran Atlantik (1939-1945)


Pertempuran Atlantik (1939-1945). Kalau Saja Jerman Mempunyai Lebih Banyak U-Boat, Sudah Pasti Dia Menang Perang!


Großadmiral Karl Dönitz, panglima U-boat berotak brilian yang membuat Inggris begitu sengsara di awal-awal perang. Banyak yang berpendapat bahwa hukuman berat yang telah diterimanya di pengadilan Nürnberg adalah bukan karena kejahatan-kejahatan perang yang telah dilakukannya, melainkan semata karena dia telah begitu banyak menimbulkan kerugian bagi pelayaran Sekutu!



Ini adalah diagram U-486, salah satu dari sekian banyak U-boat Jerman bertipe VII-C



Awak U-boat sedang memasukkan sebuah torpedo ke dalam kapal selamnya. Pada awalnya, kualitas torpedo Jerman begitu buruknya sehingga beberapa U-boat tercatat tenggelam dikarenakan torpedo sendiri, salah satunya adalah U-47 yang terkenal di bawah komandan Günther Prien



Sebuah tanker terbakar dengan hebat sebelum tenggelam di pantai Amerika dalam periode yang disebut sebagai "The second happy time"



U-boat sedang berangkat menuju tugas patrolinya. Di sebelah kanan adalah kapal penjaga pantai Jerman



Salah satu yang paling membahagiakan bagi para awak U-boat di lautan (selain dari menghancurkan kapal musuh) adalah ketika mereka bertemu dengan rekan seperjuangannya di U-boat lain.



U-47 dielu-elukan oleh para penonton ketika tiba di pelabuhan Jerman tak lama setelah secara menggemparkan berhasil menenggelamkan kapal perang Inggris di pangkalannya sendiri. Sang komandan yang bermental baja, Günther Prien, berada di menara pengawas



Karl Dönitz bersa
ma dengan Korvettenkapitän Adalbert Schnee (kiri) dan Konteradmiral Eberhard Godt, dua orang staffnya yang paling terpercaya, sedang merundingkan strategi di markas besar U-boat di Prancis



Kapten U-boat terbesar dalam Perang Dunia II, Fregattenkapitän Otto Kretschmer, sedang berunding dengan para perwiranya di U-99



Perangko Jerman yang memperlihatkan gambar U-boat dan korbannya




“Satu-satunya hal yang paling menakutkanku dalam perang ini adalah ancaman u-boat!” – Winston Churchill



Ketika Perang Dunia II bermula, Inggris melihat bahwa ancaman terbesar Jerman bagi rute perdagangan lautnya adalah kapal-kapal perangnya, sama seperti Hitler yang juga berpendapat begitu. Diperkirakan bahwa kapal-kapal perang Jerman yang baru dibangun akan menyerang armada dagang yang keluar-masuk daratan Inggris, dimana Inggris sangat tergantung darinya dalam hal persediaan makanan, sebagian besar dari bahan mentah untuk pembuatan mesin-mesin perangnya, dan juga minyak. Bila masih ada yang tersisa dari sergapan kapal-kapal perang ini, maka akan dibereskan oleh u-boat yang beroperasi di perairan pantai. Yang terjadi kemudian membuktikan bahwa pandangan ini sepenuhnya salah, karena ancaman terbesar bagi Inggris dari laut bukanlah terletak pada kapal perang Jerman, melainkan justru u-boat yang sebelumnya dianggap remeh!



Setidaknya satu orang tahu akan hal ini : Admiral Karl Dönitz, panglima armada U-boat. Dia dapat juga salah bila saja Hitler mampu menunda perang dengan Inggris sampai semua kapal perang yang diperuntukkan bagi Angkatan Lautnya selesai dibangun. Yang jelas, Dönitz mempunyai keyakinan tak tergoyahkan bahwa dengan kapal selam yang cukup, maka dia akan memenangkan peperangan di lautan, sesuatu yang pernah dia buktikan sendiri sebagai seorang komandan U-boat 29 tahun sebelumnya.



“Pada bulan Oktober 1918, aku adalah seorang kapten kapal selam di Mediterania, dekat Malta. Di satu malam aku bertemu dengan konvoy Inggris yang dikawal oleh kapal-kapal perusak dan penjelajah. Aku menyerang dan menenggelamkan sebuah kapal. Saat itu aku sadar bahwa kemungkinan untuk menenggelamkan lebih banyak kapal akan terbuka bila saja ada lebih banyak u-boat. Disitulah ide Wolf Pack muncul, untuk mengumpulkan kapal selam bersama-sama, dan menyerang bersama-sama pula. Di rentang tahun 1918 sampai dengan 1935, ketika kita diizinkan mempunyai kapal selam kembali, aku tidak pernah melupakan gagasan ini.” – Karl Dönitz.




Di bawah air, para U-boat era 1939 itu bergerak lambat bagaikan keong, sementara di permukaan maka kecepatannya mampu menyaingi konvoy kapal dagang manapun. Dengan siluet rendahnya maka keberadaannya tak gampang terdeteksi, terutama di malam hari, sementara musuhnya dapat dengan jelas terlihat hanya dengan mengandalkan periskop yang dinongolkan sedikit di permukaan laut. Dan jangan lupakan pula radio! Dengan ini, para U-boat ini bisa ‘janjian’ bertemu untuk selanjutnya menyerang secara berkelompok. Dönitz tahu bahwa Inggris akan mencoba untuk melindungi jalur perdagangan Atlantiknya yang sangat penting dengan menerapkan sistem konvoy yang dikawal oleh kapal perang. Untuk menghancurleburkan sistem ini dan kemudian memenangkan perang, Dönitz memperkirakan bahwa sedikitnya dia butuh 300 buah kapal selam. Lalu apa yang ada dalam tangannya ketika perang pecah? hanya ada 27 U-boat yang operasional, itupun harus melalui perjalanan yang berbahaya dari pangkalan menuju ke sasarannya! Untung saja, ketika Prancis jatuh, Dönitz mendapatkan pangkalan-pangkalan baru yang lebih dekat lagi ke jalur pelayaran.



Dalam kenyataannya, ketika dalam perjalanan ke Lorient tak lama setelah kejatuhan Prancis, Karl Dönitz dan ajudannya bertemu dengan dua orang pengungsi yang bergerak ke arah barat. Dia memberi tumpangan pada kedua orang tersebut, yang ternyata kemudian diketahui adalah orang Yahudi Jerman yang berusaha menyelamatkan diri dari negaranya! Ketika menurunkan mereka di tempat yang dituju di Le Mans, Dönitz menitip pesan, “sampaikan salam saya pada Inggris!”




Setelah pangkalan-pangkalan ini selesai dibangun, maka para Serigala Lautan (Sea Wolves) ini akan kembali dari patroli yang mereka jalani sebagai pahlawan. Salah satu yang paling spesial pake telor adalah Otto Kretschmer, yang secara keseluruhan telah menenggelamkan 46 kapal dengan total tonase 274.333 ton! Di bulan Oktober 1940 dia bergabung dengan sistem Wolf Pack pertama yang sebenarnya, dan merupakan pengejawantahan dari impian Dönitz selama berpuluh-puluh tahun.



“Aku ingat bahwa ada sinyal yang memberitakan tentang adanya konvoy yang datang dari Amerika menuju Inggris, meskipun posisinya saat itu belum diketahui. Dönitz memerintahkan setiap kapal selam untuk bergerak ke barat Irlandia demi melakukan semacam garis pengintaian dan membiarkan konvoy tersebut lewat untuk sementara dan masuk ke jalur tembakannya. Ketika satu kapal selam kemudian dipergoki, konvoy tersebut langsung memberikan sinyal tanda bahaya ke kapal lainnya. Disinilah jalur kapal selam kami berpencar untuk kemudian menyerang sendiri-sendiri secara bebas.” – Otto Kretschmer.




Großadmiral Erich Raeder memperlihatkan kepercayaan penuh kepada Führernya ketika dia memberi instruksi pada para kru U-boat dalam sebuah latihan senjata di musim panas 1939. Raeder meyakinkan bahwa sang Führer telah berjanji kepadanya bahwa tak akan ada perang dalam keadaan apapun dengan Inggris, karena itu akan berarti “Finis Germaniae”. Sementara Dönitz, yang selalu terbuka pada anak buah yang sangat dicintainya, menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini maka dia tidak akan mempercayai janji pemimpinnya sendiri, dan sebagai seorang komandan dia harus selalu bersiap-siap untuk menghadapi keadaan seperti apapun. Yang dapat dia lakukan hanyalah mengulangi permintaannya untuk disediakan 300 buah U-boat, karena junlah inilah yang akan secara efektif menutup jalur perdagangan laut Inggris, dan melumpuhkannya secara ekonomi. Dalam waktu hanya 6 minggu, yang tak terbayangkan itu terjadi. Polandia diinvasi dan 2 hari kemudian Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman. Dönitz tak pernah menyembunyikan prediksinya bahwa tak lama Jerman akan terlibat perang kembali, tapi tetap saja berita ini memukulnya bagaikan palu godam. Propaganda Goebbels dengan gencar memberitakan bahwa Jerman telah dipaksa masuk ke dalam perang yang tak pernah diinginkannya. Dönitz lebih memikirkan hal lain yang lebih serius : Kriegsmarine belum siap untuk menghadapi perang ini. Inggris dan Prancis mempunyai kapal perang 10 kali lebih banyak dari Jerman, sehingga Dönitz tak melihat ada jalan bagaimana Kriegsmarine dapat memenangkan perang di lautan dengan kekuatan pas-pasan yang dipunyainya saat itu. Situasinya sendiri, di matanya, adalah sangat genting. Semua 3000 orang anggota U-boat adalah orang-orang yang sangat terlatih, tapi mereka hanya mempunyai 57 kapal selam, bahkan itupun kebanyakan hanya “bebek-bebek” yang berbobot 250 ton, dan diperuntukkan di operasi pantai saja. Hanya 27 kapal yang mampu untuk melakukan penyergapan di samudera Atlantik.



Mereka kebanyakan berlayar dari pangkalan-pangkalan di Baltik dan Laut Utara, dengan kru-kru yang bersemangat tinggi tapi hanya mempunyai sedikit pengalaman. Dalam 18 bulan pertama aktivitas U-boat dalam mengganggu jalur suplai Inggris hanyalah kecil saja, bahkan ketika Jerman menginvasi Norwegia di bulan April 1940, tak ada satupun U-boat yang wara-wiri di Atlantik! Musim panas 1940 Prancis jatuh ke tangan Jerman dan pasukan U-boat dapat menggunakan pangkalan baru di Bay of Biscay.





Kapal-kapal perusak Inggris sangat mengandalkan ASDIC dalam menanggulangi serangan U-boat. ASDIC ini dapat berguna dalam mengetahui jarak dan keberadaan U-boat dengan mendeteksi suara yang muncul. Minimnya pengawalan dari konvoy-konvoy yang lalu lalang dapat berarti bahwa para U-boat dapat menyerang musuh mereka secara bebas. Hal ini terjadi karena Inggris terlalu mengandalkan pada ASDIC, yang terbukti hanya dapat bekerja pada kondisi ideal, sesuatu yang justru kebalikannya di samudera Atlantik! Ini seringkali membuat para pengawal yang sedikit itu dapat dengan santainya berlayar menjelajahi lautan sementara U-boat Jerman berada di bawah mereka tanpa terdeteksi. Saat itu belum ada taktik resmi Royal Navy berkaitan dengan cara konvoy yang baik dan benar atau bagaimana cara menanggulangi serangan terhadap konvoy. Yang terjadi adalah, bila kemudian kapal-kapal itu mendapat serangan, maka mereka akan berpencaran ke berbagai arah dengan kecepatan penuh tanpa tujuan, sehingga Yang repot adalah kapal pengawal yang harus mengumpulkan mereka kembali sesudahnya! Para kapten kapal dagang itu bukanlah orang-orang militer yang mempunyai disiplin tinggi, dan kadang-kadang mereka tidak mematuhi instruksi yang dirasa “konyol” seperti harus memadamkan lampu ketika berada di malam hari. Sebuah kapal barang Yunani dari Konvoy SC7 diketahui “bersinar terang gemerlap” di buritannya tak lama setelah serangan U-boat. Untungnya, yang memergokinya adalah kapal pengawal (dan bukan U-boat) yang bertugas mengumpulkan kembali konvoy bagaikan induk bebek mengumpulkan anak-anaknya yang berpencaran!




Tujuan resmi dari Nasional-Sosialisme “untuk melayani masyarakat dan melakukan apapun yang kamu bisa untuk memperbaiki kehidupan mereka” juga direfleksikan dalam tatacara yang terjadi di dalam kapal selam. Sang komandan mempunyai tanggung jawab penuh akan apapun yang terjadi di kapal yang dipimpinnya, dan biasanya dia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan 50 orang anak buahnya. Setiap orang mengenal dengan baik masing-masing temannya, dan setiap orang tahu pula tugas apa yang harus dilakukannya.




Jenis kapal selam favorit Dönitz untuk tugas penyerangan adalah U-boat tipe 7, yang berbeda hanya sedikit saja dengan pendahulunya di Perang Dunia Pertama. U-boat ini ditenagai oleh 2 buah mesin diesel besar yang mampu mendorong kapal dengan kecepatan maksimal 17 knot. Cerobong udara untuk membuang asap mesin berasal dari pipa yang berada di menara pengawas untuk menjamin jarak maksimumnya dari lautan. Biasanya, U-boat menghabiskan 90% dari masa patrolinya dengan berada di permukaan. Ketika perintah menyelam itu datang, maka mesin akan dimatikan, digantikan dengan tenaga dari baterai kapal. Di dalam lautan, sebuah U-boat hanya mampu merayap dengan kecepatan 7 knot saja, dan ini pun hanya berlaku untuk 1 jam. Untuk kecepatan 2 knot, maka U-boat dapat bertahan nyungseb di laut maksimal 36 jam, setelahnya maka mau tidak mau kapal selam itu harus muncul kembali di permukaan demi mengisi ulang udara dan baterai. Di atas air, sebuah U-boat biasanya mempunyai kecepatan yang cukup untuk memberantakkan konvoy yang bergerak lambat, tapi di bawah air maka yang ada adalah hampir kemustahilan. Disini pula U-boat itu bagaikan orang buta yang mengandalkan melulu pada peralatan sonar. Masih kurang jelas? Biar Jürgen Oesten (komandan U-61 di musim panas 1940) yang baceo : “Semua U-boat yang kita punyai selama perang pada dasarnya adalah kapal permukaan yang mempunyai kemampuan untuk menyelam. Dari 20 kapal yang aku tenggelamkan, 19 di antaranya ditenggelamkan di permukaan. Di malam hari, bila jarak antara kapalmu dan target lebih dekat dari 3000 sampai 4000 meter, maka menara pengawas kami hampir-hampir tidak terlihat dari anjungan kapal dagang musuh (tidak tampak di atas horizon). Kau hanya menampakkan siluet kecil saja di mata targetmu!”




Di tahun 1935 para laksamana Inggris telah hafal luar dalam jumlah baut dan mur dalam sebuah U-boat Jerman, tapi hampir-hampir blank tentang taktiknya itu sendiri! Ini adalah suatu hal yang mengejutkan bila kita tahu bahwa pada tahun 1939 Dönitz telah menerbitkan sebuah buku,Die U-Bootswaffe, yang terang-terangan bercerita tentang metode dan taktik berperang U-boat yang diketahuinya berdasarkan pengalaman pada Perang Dunia I ditambah dengan hasil inovasinya sendiri. Salah satunya adalah betapa Dönitz sangat menyarankan serangan yang dilakukan pada malam hari, dan bagaimana dia telah melatih para awak U-boat secara seksama dalam hal ini.




Biasanya sebuah U-boat dengan panjang 220 kaki diisi oleh 43 orang awak kapal dengan usia yang segar-segarnya dan kondisi badan yang prima (rata-rata usia awak U-boat adalah 20-23 tahun, sementara komandannya berusia 28 tahun). Hampir semua kru hidup di kompartemen yang berada di haluan, yang sekaligus menjadi gudang senjata utama. Sebagai senjatanya, tersedia 4 buah tabung dengan cadangan 10 buah torpedo. 2 torpedo lain bisa pula dilepaskan dari buritan dan 2 lagi dibawa dalam kontainer bebas-tekanan di dek atas. Bisa dibilang bahwa kehidupan di dalam kapal selam semakin menyenangkan dengan dilepaskannya setiap torpedo yang memenuhi ruangan!








Para kru berbagi ruangan tidur dengan kru lain di seberangnya, dan setiap orang bergantian menempati ‘ranjang’ yang baru saja ditinggalkan temannya yang kena giliran jaga. Di sebelah setiap ranjang terdapat sebuah loker kecil tempat menyimpan barang-barang pribadi awak kapal. Disini mereka tidak membutuhkan baju bersih, pisau cukur atau sabun mandi, dan setelah beberapa hari meninggalkan pangkalan, penampilan para manusia ini berubah drastis, seperti tanda-tanda kehidupan tanpa sinar matahari. Muka putih seperti kuntilanak, janggut mulai tumbuh, dan lingkaran hitam nongol di sekitar mata. Tak lama pakaian sudah berbau mesin diesel dan bercampur air asin. Air tawar begitu berharga dan hanya digunakan untuk minum saja, dan meskipun selalu ada kesempatan mencuci baju menggunakan air laut, tapi hal ini hampir tidak pernah dilakukan. Memang ada 2 toilet yang tersedia di dalam kapal, tapi satu dipenuhi oleh persediaan makanan, dan satunya lagi digunakan secara bergantian oleh 40 orang lebih! Bau di dalam kapal tak usah dibayangkan lagi, dari bau mesin diesel, ditambah bau makanan yang ditingkahi bau keringat awak kapal yang tidak mandi berminggu-minggu. Campurkan ini semua dan anda mendapatkan bau khas yang hanya ada di dalam sebuah U-boat! Beberapa kru yang masih berpikiran waras biasanya memakai Cologne 4711 untuk mengurangi dan melindungi dari bau yang menyengat, tapi biasanya para awak U-boat lain sudah pasrah saja menerima keadaan ini.








Di bagian bawah kompartemen haluan adalah tempat para perwira. Setidaknya kehidupan tidak terlalu parah bagi 9 orang yang makan dan tidur disini. Kapten kapal mempunyai ruangan tersendiri yang dilengkapi dengan tempat untuk menulis di sebelah ruangan radio. Para perwira makan di sebuah meja kecil yang terletak di perlintasan, dan biasanya acara makan terganggu oleh lalu-lintas para awak dari dan ke kompartemen haluan. Di jantung kapal selam tersebut terdapat ruang kontrol, yang dipenuhi oleh berbagai macam peralatan, katup, tombol-tombol, dan pengukur tekanan. Disinilah terletak “markas besar” tempat mengarahkan setiap aksi yang kemudian terjadi. Disini terdapat pengukur tangki pemberat, dan pengukur penyelaman. Salah satu dari 2 buah periskop U-boat dioperasikan dari sini, sementara satunya lagi, yang lebih panjang dan digunakan untuk menyerang kapal musuh, ditempatkan di menara pemgawas di atasnya. Selanjutnya adalah kompartemen para perwira rendahan dan dapur mini. “Senjata” sang koki adalah 3 buah kompor, 2 buah oven kecil dan 40 buah panci untuk merebus. Kalau anda mengira bahwa makanan yang disediakan disini pastinya berkualitas ancur-ancuran, maka anda salah besar, karena biasanya makanan yang ada disajikan dengan profesional sehingga rasanya bisa dipertanggungjawabkan. Kenapa? Karena soal rasa ini berpengaruh kepada semangat para awak kapal. Bayangkan saja, sudah capek-capek bekerja di tempat yang sempit, bau neraka, penuh resiko, jauh dari keluarga, dan ketika makan pun disuguhi dengan babadotan! Tentu saja persediaan makanan yang ada di U-boat tidak akan bertahan lama, karena selalu ada tetesan air dari mana-mana, rembesan katup dan sisa kondensasi. Di mana-mana yang ada adalah kelembaban dan akibatnya, tak lama makanan sudah dilapisi oleh jamur-jamur berwarna hijau. Mungkin saja kalau awak U-boatnya orang Indonesia mereka tinggal bawa tempe atau tape singkong saja maka tidak akan jadi masalah, tapi ini orang bule, Bung! Dan biasanya setelah makanan yang segar-segar habis atau dibuang karena jamuran, maka para awak kapal harus menerima hari-harinya disi dengan memakan makanan kalengan.








Di sebelah dapur adalah ruangan mesin yang dapat dikenali dari suara mesin dieselnya yang berbunyi tanpa henti. Yang terakhir adalah kompartemen elektrik dengan motor berkekuatan 375 tenaga kuda. Di sebagian besar waktu patroli, 4 orang petugas bergantian menerawang kejauhan di menara pengawas. Tapi kondisi tak selamanya bersahabat, seperti yang dijelaskan oleh Horst Elfe, perwira kedua di U-99 : “Kami harus bertahan menghadapi badai Atlantik yang setiap saat melanda. Tak ada yang lebih buruk dari ini, karena kapal hampir mustahil dikendalikan di kedalaman periskop dengan cuaca seperti tersebut, kecuali bila berada di atas air. Serangan permukaan tak pernah terpikirkan oleh kami karena tak seorangpun bisa melihat, bergerak, membidik atau yang lainnya. Yang kami pikirkan saat itu hanyalah keselamatan diri kami sendiri.”








Admiral Sir Andrew Cunningham menginsyafi bahwa meskipun hanya butuh waktu 3 tahun untuk membangun sebuah kapal, tapi butuh waktu 300 tahun untuk membangun sebuah tradisi. Kehilangan pertama Inggris di lautan, terutama Kapal Perang Royal Oak di pangkalannya sendiri, memberi pukulan yang menggoncangkan bagi publik, meskipun kepercayaan bahwa pada akhirnya Inggris tetap menang masih menjadi suatu kepercayaan yang umum. Pada mulanya kepanikan Royal Navy begitu terasa ketika mereka menghantam setiap apapun yang terlihat bergerak di lautan. Laporan-laporan tentang kemunculan U-boat bermunculan dimana-mana. Seorang pengintai di Mercusuar Isle of Man bahkan mengklaim telah melihat sebuah periskop dari jarak 6 mil! Ini jelas-jelas suatu kebullshitan, karena jangankan di hari yang berkabut, di hari terang pun adalah suatu keberuntungan bila seorang observer mampu melihat periskop nongol dari jarak 1000 yard! Dan laporan seperti ini begitu ditanggapi dengan seriusnya oleh Royal Navy sehingga mereka buru-buru mengirimkan kapal perang terpilih HMS Walker dari Liverpool demi melayani U-boat yang ternyata tidak pernah menampakkan batang hidung eh periskopnya! Bahkan kalaupun U-boat itu benar-benar ada, maka dengan kecepatan HMS Walker yang mencapai 25 knot, paling cepat kapal tersebut bisa tiba di lokasi adalah dalam waktu 2 jam, dan dalam waktu segitu sudah tentu sang U-boat buruan dapat berada di mana saja dalam radius 10 mil, radius yang sungguh di luar jangkauan bila membayangkan bahwa HMS Walker hanya sendirian saja dan dipersenjatai oleh ASDIC yang hanya dapat efektif dalam jarak 2000 yard!








Ada masalah lain : konvoy mendapat pengawalan tidak sampai ke tujuannya, melainkan dari Inggris sampai ke 300 mil sebelah barat Irlandia saja. Hal ini wajar belaka, karena kalau semua konvoy mendapat pengawalan sampai ke tujuannya, maka tidak akan ada lagi kapal perang yang tersisa untuk keperluan lainnya! Bagi Jerman tentu saja ini adalah suatu rezeki nongtot, karena seluruh samudera Atlantik berada dalam jangkauan U-boat-U-boat yang kelaparan. Dari bulan Juli sampai dengan Oktober 1940, tercatat 144 buah kapal dagang yang tak mendapat pengawalan ditenggelamkan, sementara 73 kapal dagang yang mendapat pengawalan pun tidak luput berhasil ditenggelamkan pula oleh Grup kapal selam Jerman. Para komandan U-boat telah menemukan kelemahan dalam sistem ASDIC, kelemahan yang fatal : benda ini tidak dapat mendeteksi kapal selam yang berada di permukaan! Di lain pihak, Dönitz mengembangkan sistem penyerangan Wolf Pack, dimana beberapa U-boat beroperasi bersama-sama dalam menyerang suatu konvoy. Di malam tanggal 21 September 1940, konvoy berkecepatan tinggi HX72 yang terdiri dari 41 kapal dagang, diserang oleh Wolf Pack dan akibatnya 11 kapal menjadi korban. Di kemudian waktu komodor konvoy tersebut begitu yakin bahwa setidaknya 2 U-boat terlibat dalam penyerangan ini, dan pendapatnya diamini oleh perwira kapal pengawal. Mulai timbul kecurigaan di kalangan laksamana Inggris bahwa para U-boat sialan itu telah mulai mengkoordinasikan serangan mereka. Hal ini adalah sesuatu yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya, dan bahkan tidak dipercayai oleh suara-suara berpengaruh di intelijen Angkatan Laut (sudah tentu orang-orang ini adalah orang-orang “ortodok keras kepala” yang sama yang berpendapat bahwa dalam pertempuran laut tidak dibutuhkan bantuan kapal terbang!). Bila peristiwa ini tidak berhasil meyakinkan para petinggi Royal Navy bahwa itulah sebenarnya yang terjadi, maka peristiwa berikut ini seakan menjadi pembenaran yang tak terbantahkan : konvoy berkecepatan ringan SC7 berangkat dari pelabuhan Sydney di Kanada di minggu pertama Oktober 1940, dan terdiri dari berbagai macam kapal, dari yang bertonase berat sampai kapal ukuran kecil. Konvoy ini tidak pernah berkecepatan lebih dari 8 knot, dan bahkan dengan kecepatan itu pun, sebagian besar dari 35 kapalnya sampai ngos-ngosan berusaha keras! Yang paling tua adalah tanker Norwegia ‘Thoroy’ yang sudah 47 tahun berkelana di lautan. Kebanyakan kapalnya telah menghabiskan 2 minggu sebelumnya di berbagai pelabuhan demi menurunkan muatan, dan yang lainnya telah mengarungi jalur laut St Lawrence demi sampai kesini. SS Fiscus dipenuhi oleh 5 ton muatan batang baja, sehingga pantaslah kalau kapal ini dinamakan sebagai batako mengapung! Frank Holding, seorang Liverpudlian, telah jujur mengaku bahwa dengan membawa kapal-kapal semacam SS Fiscus dan Thoroy, maka “anda tak akan punya kesempatan untuk selamat”. Sekali kapal semacam itu tersentuh torpedo, maka sudah pasti dia akan langsung tenggelam ke lautan bagaikan batu. Dia mengaku bahwa dia termasuk orang yang beruntung karena berada di SS Beatus, “kapal uap tua lambat yang kotor, yang punya bau campuran oli dan gula, yang punya koki orang Cina sementara ruangan mesinnya dipenuhi oleh orang India, jadi hanya aku dan seorang lagi yang asli dari Liverpool!” sebagai asisten pelayan, kehidupan di kapal dirasanya sedikit lebih baik dari yang lainnya. “Kami punya hak-hak khusus di ruangan mesin dan dek yang selalu ramai, sementara mereka berdesak-desakan di bagian muka kapal, mungkin 8 sampai 10 ranjang dalam satu ruangan. Aku sendiri berada satu ruangan dengan hanya 1 orang lagi : koki Cina itu!”








“Kami selalu dikasih tahu bahwa, bila kapal kami ditenggelamkan oleh U-boat, maka mereka akan membiarkan kami dan hanya membawa kapten dan insinyur saja sebagai tawanan. Kami sangat takut bila mereka menembaki kami dengan senapan mesin. Dua orang teman, Eddie dan Billy Howard, pernah melihat kejadian seperti ini di Three Rivers, dan sekarang mereka berada di Creekirk, yang dipenuhi oleh bijih besi. Tanggal 5 Oktober SC7 bersiap-siap dan mulai berangkat ke arah lautan. Dalam brifing sebelum berlayar, beberapa perwira dari Royal Navy ngomel-ngomel tentang “kapten-kapten kapal keras kepala” yang berpendapat bahwa mereka lebih baik pergi tanpa mendapat pengawalan. Di 11 hari pertama, hanya satu sekoci pengawal saja yang mengiringi kami. Kami bisa berharap mendapat pengawalan penuh bila sudah mendekati tujuan kami. Beberapa kapal telah diperlengkapi dengan senjata 4 inci di buritannya, meskipun para pelautnya sendiri menganggap bahwa senjata-senjata tersebut lebih sebagai pajangan saja. Tak lama setelah tengah hari, kapal pertama mengangkat jangkar dan mulai berangkat, dan dibutuhkan seluruh sisa hari itu hanya untuk mengumpulkan semua kapal dalam posisinya. Sembilan lajur dengan tiga atau empat kapal di setiap lajurnya. Bagi para awak kapal dagang yang biasa berlayar dengan bebas di kaki langit yang kosong, hanya untuk tetap di lajur saja sudah merupakan suatu hal yang sulitnya minta ampun. Empat hari di lautan dan SC7 sudah menghadapi cuaca buruk, yang memaksa beberapa kapal keluar dari barisannya. Salah satu dari kapal terbesar, Empire Miniver berbobot 6000 ton, terkena masalah pada turbin. Kapten Robert Smith melapor kepada pangkalannya bahwa ‘ketika kami sedang mengamati kegelapan yang tampak di depan mata, tiba-tiba saja kami melihat sinar terang di haluan kapal. Dengan terkejut kami mendapati bahwa itu adalah sebuah kapal uap Yunani, yang bisa kami lihat dengan jelas bahkan dari jarak 6 mil jauhnya!” begitu ‘seksamanya’ pedoman berlayar di kala perang bagi konvoy ini!”








Di jam-jam awal tanggal 16 Oktober, salah satu kapal yang keluar barisan membunyikan peringatan secara berulang-ulang, serangan U-boat! Satu-satunya pengawal konvoy, HMS Scarborough, tak dapat berbuat apa-apa. Kargo dan krunya hilang ditelan lautan. Semangat muncul ketika di kaki langit datang dua buah kapal pengawal (HMS Fowey dan HMS Bluebell) yang datang dari Liverpool, tapi tetap tak ada rencana untuk mengkoordinasikan aksi dalam menghadapi serangan ini. Di akhir malam itu, pengawas di U-48 menangkap siluet kapal di cahaya bulan. Ketika U-boat itu mendekat, dengan jelas tampak bahwa itu adalah sebuah konvoy, berukuran besar dan lemah! Tak lama Lorient telah menerima transmisi radio yang memberitahukan lokasi dan kecepatannya. Sebuah grup yang terdiri dari 5 U-boat diperintahkan untuk menemukan, mendekat, dan menyerang. U-48 maju pertama kali, tanpa perlu capek-capek menunggu yang lain datang, dan tak lama menemukan mangsanya yang terbesar, tanker Languedoc berukuran 9500 ton. Torpedo pertama menghantam bagian sampingnya dan BELEDUG! 2 menit kemudian ledakan kedua datang dari kapal barang Scoresby, BELEDUG!








Karena tak berpengalaman, kapal pengawal ini malahan memutuskan untuk mengambil orang-orang yang selamat dari kapal yang tenggelam dan bukannya memburu si pembuat masalah. Akibatnya, konvoy itu tak terjaga lagi. Di sore selanjutnya U-boat lain merusakkan satu kapal. Ketika malam turun tanggal 18 Oktober, 3 buah pengawal “menggembalakan” 31 anggota konvoy yang masih tersisa. Kalau mereka kira bahwa kini bahaya telah berakhir, maka mereka salah besar! Tepat di kaki langit menunggu dengan tenang 6 buah U-boat yang bersejajaran dengan jalur konvoy tersebut. Salah satu dari kapal selam ini adalah U-100 yang dikomandani oleh Joachim Schepke dan U-99 dengan komandannya Otto Kretschmer. Dua-duanya kemudian akan dicatat dengan tinta emas sejarah sebagai dua orang jagoan kapal selam yang paling disegani dalam Perang Dunia II.








Tak lama sebelum tengah malam mereka menyerang! Dimana-mana kapal-kapal meledak, terbakar dan tenggelam. Benar-benar suatu kekacauan yang luar biasa. Para pengawal itu tak dapat melakukan apa-apa selain menolong orang-orang yang selamat. ASDIC yang mereka bawa tidaklah berguna sama sekali, sementara teknologi radar masih ala kadarnya. Hasilnya adalah, dari 35 kapal yang berangkat dari pelabuhan keberangkatan, hanya 12 buah yang sampai dengan selamat! Dan ini pun bukan karena gerombolan U-boat itu kehabisan torpedo, melainkan karena Otto Kretschmer yang menerima berita bahwa ada konvoy lain (HX79) yang ikut terdeteksi dan berada dalam jangkauan mereka. U-boat-U-boat itu memutuskan untuk “berpesta” di konvoy yang kedua, dan menenggelamkan 12 kapal plus merusakkan 2 dari 49 kapal anggota konvoy HX79!








Salah satu dari jagoan U-boat yang paling terkenal adalah Erich Topp, komandan kapal U-552 yang dikenal sebagai “Setan Merah”. di tahun 1936 dia telah bertugas di penjelajah Karlsruhe. Hubungan pribadi yang kemudian terjalin dengan Admiral Dönitz membuat dia memutuskan untuk mendaftar secara sukarela di unit U-boat. Di tahun 1937 dia melaporkan diri pada Sekolah Pelatihan Neustadt. Perkenalan pertamanya dengan U-boat berujung dengan kekecewaan, ketika dia mendapati “bau” U-boat yang khas dan kelembaban konstan yang terdapat di dalamnya. Pada akhirnya dia mampu untuk membiasakan diri dan malah menganggap U-boat sebagai rumah utamanya.








Kebanyakan dari kapal penjaga konvoy di awal-awal perang adalah perusak tua sisa-sisa Perang Dunia I, kapal sekoci kecil dan korvet, yang tidak mumpuni bila diharuskan menjalani tugas baru sebagai pemburu kapal selam. U-boat Kretschmer, U-99, dengan menggunakan strategi penyerangan malam (yang sudah jelas-jelas disebutkan dalam bukunya Karl Dönitz Die U-Bootswaffe, tapi yang kopinya tak satupun dipunyai oleh intelijen Inggris!) berhasil menenggelamkan 9 dari 17 kapal yang berasal dari konvoy SC7. tentu saja ASDIC tak dapat mendeteksi kapal selam yang berada DI ATAS permukaan. Bisa dikatakan bahwa kerugian luar biasa besar yang diderita oleh pelayaran Sekutu selama tahun-tahun pertama perang benar-benar di luar perkiraan bila melihat jumlah U-boat yang operasional, tak lebih dari 12 buah yang ada di lautan dalam saat yang sama, itu pun sangat jarang terjadi! Setelah perang Inggris baru tahu bahwa sebenarnyalah Jerman telah mengetahui kode yang biasa digunakan oleh radio konvoy. Biasanya, U-boat “dituntun” ke arah buruannya oleh pesawat Condor dari Luftwaffe. Condor itu sendiri, yang merupakan bomber pengintai jarak jauh, bertugas untuk melaporkan pergerakan kapal yang terdeteksi sedang berada di laut, dan bahkan ikut menenggelamkan beberapa di antaranya!








U-boat ini bukannya tidak punya masalah sendiri, dan salah satunya adalah torpedo yang bermutu pas-pasan. Sebagai contohnya adalah U-23 yang dikomandani Oleh Kretschmer (sebelum dia dilempar ke U-99) yang pada tahun 1939 butuh 3 buah torpedo hanya untuk menenggelamkan sebuah kapal barang kecil di Laut Utara. Dengan tersisa 1 buah torpedo, Kretschmer memutuskan untuk “nganjang” ke Perairan Orkney di dekat Kirkwall. Di pelabuhan bersandar sebuah tanker berbobot 10.500 ton dari negara netral bernama Danmark (bodo banget kalo nggak tahu asal tanker ini!). para awak U-boat itu dapat dengan jelas melihat beberapa orang di dek sedang bersantai melepus-lepuskan rokok, di sebuah kapal yang secara ceroboh tidak memasang pertahanan di sekeliling dirinya. Srrrrrrr... BELEDUG! Ketika torpedo itu menemukan sasarannya, semua mata yang berada di pelabuhan malahan mendongak ke langit, menyangka bahwa yang ada adalah serangan dari Luftwaffe! Tak ada satupun yang mengira bahwa akan ada kapal selam sialan yang mencoba menerobos masuk. Dengan santai U-23 berlayar ke kanan dan melewati pos penjagaan, menyelinap kembali ke lautan bebas sementara semua senjata di arahkan ke udara! Tenggelamnya Danmark ini menandai babak baru peperangan. Dia telah mengibarkan bendera negara netral. Pada bulan Januari 1940 itu, Prize Regulations governing Conduct of Nations at War at Sea telah dilanggar secara sengaja. Untuk sedikit menyamarkan pelanggaran yang dilakukan oleh Kretschmer, Dönitz memerintahkan U-boatnya untuk memilih sasaran mereka secara hati-hati dan seksama, dan berharap Sekutu akan menyangka bahwa kapalnya tenggelam disebabkan oleh ranjau laut dan bukannya U-boat. Angkatan Laut Inggris sendiri memang sebelumnya telah memeriksa wilayah sekitar dan menemukan beberapa buah ranjau, sehingga dengan leganya Dönitz mendapati bahwa dua dari kapal yang ditenggelamkan oleh Kretschmer diklaim Inggris sebagai “tenggelam karena ranjau”. Tapi hanya sebentar saja, karena ketika sebuah pesawat pengintai mendapati U-boat Kretschmer, barulah Royal Navy menghadapi kenyataan sebenarnya yang menyesakkan.








Di bulan Desember 1940 kehilangan kapal yang diderita Inggris begitu parahnya sehingga kini Inggris terancam untuk menyerah kalah melalui kelaparan dan kekurangan barang yang mengancamnya! Yang diperlukan adalah lebih banyak kapal pengawal untuk mengiringi konvoy yang lebih rapat sehingga mudah dikontrol, dan jangan lupa mesin pendeteksi yang lebih baik dibandingkan ASDIC, yang tak bisa membedakan suara kapal selam dengan suara ikan paus! Sebagai balasan pangkalannya yang diserahkan ke Amerika, Presiden Franklin Delano Roosevelt memutuskan untuk menghibahkan 50 buah perusak tambahan sisa Perang Dunia I. Ya, mereka memang sudah bangkotan, tapi setidaknya mereka mengisi kekurangan dalam hal kapal pengawal yang diderita Inggris. Belum cukup, kapal perusak cepat juga ditambahkan untuk tugas ini ketika dirasa mereka sudah tidak dibutuhkan lagi di tugas sebelumnya, menantang kapal-kapal perang Jerman! Belum cukup, produksi kapal baru digenjot habis-habisan. Yang lebih penting lagi adalah, para ilmuwan Inggris menemukan sebuah “magnetron gema berongga” berukuran kecil, yang kemudian terbukti merupakan bagian penting dari sistem radar untuk menangkap U-boat di permukaan. Apa yang diketahui oleh para awak U-boat sebagai “Happy Time” kini akan segera berakhir, meskipun buat sementara bisa dibilang tahun 1941 perang di lautan Atlantik sedang berkecamuk seru-serunya, dengan masing-masing mengerahkan segala upaya demi menghancurkan musuhnya.









Setelah Amerika masuk ke dalam kancah peperangan, U-boat Jerman mengalami masa “Happy Time” yang kedua, Die Glückliche Zeit. Amerika masih hijau dalam hal perang U-boat ini, dan bahkan tidak repot-repot menerapkan blackout terhadap kota-kota di sepanjang pantainya. Akibatnya, pantai Florida di waktu malam tetap semarak oleh lampu-lampu yang memenuhi angkasa. Setiap kapal yang lewat menampakkan siluet yang jelas karena cahaya yang timbul dari pantai. Tentu saja ini merupakan sasaran empuk bagi 21 kapal selam yang dikirimkan oleh Dönitz ke area tersebut. Di bulan Juni 1942 mereka telah menenggelamkan tidak kurang dari 505 buah kapal, dan kebanyakan di antaranya masih berada di sekitar perairan Florida! Di luar dari kekurangan dalam hal teknologi, kapal pengawal dan pelatihan, Amerika juga kekurangan pesawat pengintai untuk melindungi konvoynya dan mengawasi lautan. Mereka bukannya tidak ada, hanya saja kebanyakan pesawat Liberator yang ada dikirim ke front Pasifik, sementara Inggris tidak membantu sedikitpun dan menginginkan pesawat Lancaster mereka untuk tugas pengeboman belaka. Seperti biasanya, selalu Jerman lah yang jadi pelopor dalam hal supremasi udara di lautan sementara musuh-musuhnya hanya bertugas mengkopi mentah-mentah. Di akhir 1940 Jerman telah mendirikan skuadron Condor Focke-Wulf di sepanjang pantai Biscay yang dapat beroperasi sampai sejauh 800 mil ke lautan Atlantik. Di dua bulan pertama tahun 1941 saja mereka telah menenggelamkan 46 kapal dengan total tonase 167.822 ton, suatu perbedaan yang tidak terlalu jauh dengan unit yang memang ditugaskan khusus untuk melakukan hal ini, U-boat, yang “hanya” mampu menenggelamkan 60 buah kapal di periode yang sama. Meskipun telah diperingati berkali-kali oleh Inggris berdasarkan bocoran dari mesin Enigmanya, tapi Admiral Ernest J. King yang merupakan Panglima Angkatan Laut Amerika Serikat tetap tidak terpengaruh untuk merubah caranya dalam menjalani perang melawan kapal selam yang sudah terbukti kadaluarsa. Laksamana satu ini memang sudah kesohor dari dulunya sebagai pembenci Inggris sejati (Anglophobic)!








Tahun 1941, jumlah kapal yang ditenggelamkan oleh U-boat sebanyak 432 = 2.171.754 ton, sementara yang ditenggelamkan oleh pesawat sebanyak 371 = 1.017.422 ton. Bila ditambahkan dengan sebab lainnya, maka dalam tahun ini Sekutu telah kehilangan 1.299 kapalnya, suatu jumlah mengerikan yang tak mampu ditanggulangi oleh produksi kapal Inggris dan sekutunya pada masa itu. Tahun 1942 lebih buruk lagi, karena 1.644 kapal nyungseb ke dasar lautan, sementara kekuatan U-boat melonjak drastis dari 91 kapal selam operasional di bulan Januari, menjadi 212 di bulan Desember!








Meskipun begitu, situasi secara perlahan namun pasti menjadi berubah lebih kepada keuntungan Sekutu. di akhir tahun 1942 Inggris telah mempunyai kapal pengawal konvoy yang dapat membawa pesawat, sementara Liberatornya mulai dapat dibagikan untuk tugas pemburuan kapal selam. Pesawat terbang amfibi Sunderland yang berpangkalan di Eslandia dapat pula difungsikan untuk tugas ini meskipun ruang lingkup operasinya hanya terbatas di rute utara. Satu lagi, penemuan Inggris yang bernama The Hedgehog (Landak), yang merupakan mortir berlaras banyak yang dapat melemparkan 24 buah bom-kedalaman dalam waktu bersamaan di depan kapal perusaknya. Ada lagi The Squid (Cumi-Cumi), yang melakukan hal yang sama tapi Cuma berkapasitas 3 bom-kedalaman. Hal ini semua mampu menanggulangi masalah gangguan U-boat yang selama ini menggerogoti jalur perdagangan Inggris dan Sekutu-Sekutunya. Masih belum cukup, sistem RADAR baru kini mampu mendeteksi kapal selam yang berada di permukaan. Kapal-kapal anti-kapal selam ini dapat pula membawa pesawat pantai kecil di deknya. Selain dari semua teknologi tersebut, Inggris juga menerapkan taktik baru, yaitu formasi grup Pemburu/Pembunuh kapal perusak. Kini komandan pengawal tidak usah susah-susah lagi bila dihadapkan pada pilihan apakah akan mengejar U-boat, menyelamatkan awak kapal yang selamat, atau tetap berada bersama konvoy, karena telah ada bagian-bagiannya yang dipersiapkan untuk menghadapi keadaan semacam ini.








Di bulan September 1942, grup pertama di bawah komandan Johnny Walker (sebagian nama awaknya : Jim Beam, Smirnoff, Vodka, dan Topi Miring! Hehehe...) telah dilepaskan ke lautan, dan bersiap untuk menuju ke konvoy mana saja yang berada dalam ancaman U-boat. Tugasnya sederhana saja, mereka akan memperkuat pertahanan konvoy, lalu mendesak U-boat yang berani nongol, mengejar mereka sampai benar-benar hancur. Kalau itu sudah selesai, mereka balik lagi ke pangkalannya dan menyerahkan sisa perlindungan kepada kapal pengawal biasa.








Tapi kerugian Sekutu masih cukup besar. Di bulan Januari 1943 203.000 ton hilang di dasar lautan, dan di bulan Februari naik menjadi 359.000 ton. Di bulan Maret 1943 konvoy HX229 meninggalkan Halifax. Tanggal 13 Maret mereka kepergok secara tidak sengaja oleh U-653. kapal selam itu buru-buru mengirim laporan balik dan Dönitz lalu mengirimkan 12 buah U-boat yang selanjutnya menimbulkan malapetaka tak tertanggungkan bagi 11 lajur konvoy tersebut. 8 buah kapal tenggelam dalam serangan pertama, 2 lagi malam harinya. Dalam waktu bersamaan grup lain juga dalam perjalanan di tempat yang sama, konvoy SC122, yang bahkan lebih besar dari HX229. parahnya, SC122 adalah konvoy berkecepatan rendah sementara HX229 cepat. Di malam tanggal 18/19 Maret, dua konvoy tersebut memutuskan untuk bergabung, dan begitu juga penyerangnya, tidak kurang dari 25 U-boat! Di pagi hari tanggal 19 Maret, 21 kapal anggota konvoy berhasil ditenggelamkan. Dan kehilangan ini dapat lebih besar lagi andai saja tidak masuk dalam jangkauan pesawat Inggris esok harinya (20 Maret). Kenyataannya, sebuah Liberator yang datang mampu menenggelamkan satu U-boat penyerang. Dalam satu pertempuran itu saja, Sekutu kehilangan 140.842 ton, sementara total kehilangan di bulan Maret adalah 627.000 ton, salah satu dari bulan terburuk dalam Perang Dunia II bagi Sekutu!








Selama bulan April, grup Pemburu/Pembunuh dilepaskan ke perairan Mediterania, dan Roosevelt memerintahkan lebih banyak lagi Liberator dikirimkan ke Atlantik. Di bulan Mei telah terdapat 41 buah Liberator yang operasional. Di pertengahan bulan itu sebuah konvoy besar diombang-ambingkan oleh badai di selatan Greenland. 12 U-boat mengambil keuntungan dari situasi ini, dan berpesta pora menenggelamkan 9 kapal. Tapi 2 Grup Pendukung kemudian tiba dari Nova Scotia, arus berbalik, dan U-boat-U-boat yang dalam perjalanan pulang diburu habis-habisan, beberapa di antaranya ditenggelamkan. 4 buah ngabelekbek di malam pertama oleh bom-kedalaman, 2 tenggelam keesokan harinya oleh pesawat pembom, dan 2 lagi bertabrakan di dalam laut untuk kemudian tenggelam pula. Konvoy berikutnya kehilangan 3 buah kapal, tapi Jerman juga kehilangan 3 buah U-boatnya. Konvoy berikutnya kehilangan 2 buah kapal sementara kehilangan Jerman lebih besar lagi, 2 U-boat tenggelam dan 2 lagi rusak. Konvoy selanjutnya tidak tersentuh, sementara U-boat yang tenggelam kini malah mencapai 6 buah! Di bulan April total tonase kapal Sekutu yang tenggelam adalah 245.000 ton sementara Jerman kehilangan pula 15 U-boat. Di bulan Mei 165.000 ton hilang sementara Jerman kehilangan 40 U-boat, dan di bulan Juni Sekutu hanya kehilangan 18.000 ton sementara Jerman 17 U-boat.








Alarm! Alarm! Dönitz menyimpan U-boatnya yang tersisa di pangkalan sambil menanti strategi baru untuk menanggulangi situasi yang tidak kondusif ini. Selama bulan Juni 1944 Dönitz mencoba untuk menggunakan U-boatnya dalam mencegah pendaratan Sekutu di Normandia, tapi mereka pun berhasil diusir oleh Grup di bawah komandan Johhnie Walker (masih familiar dengan namanya kan?). di fase inilah Pertempuran Atlantik (The Battle of Atlantic) secara efektif berakhir. U-boat tak lagi menjadi ancaman Sekutu, apalagi setelah pangkalan-pangkalannya di Prancis dikuasai kembali lawan. Hitler sendiri kini menganggap bahwa U-boat hanya berfungsi sebagai organisasi “defensif” saja, untuk membuat sibuk Sekutu sementara dia mati-matian berperang melawan Rusia di Timur. Dönitz adalah Dönitz, dia tetap mengirim orang-orang pilihannya ke lautan dalam misi-misi bunuh diri, menginsyafi dengan sepenuh kesadaran bahwa kemungkinan mereka untuk kembali pulang adalah nol. Para komandan U-boat berkali-kali memperingatkan Dönitz bahwa Sekutu secara diam-diam mendengarkan mereka, dan jawaban Dönitz adalah : “Itu suatu hil yang mustahal! Mesin kode kita tak mungkin bisa dipecahkan.” Pada kenyataannya, mesin itu telah berhasil dipecahkan dan mereka mendengar! Betapapun besarnya ancaman U-boat yang muncul kemudian, mereka hanya berhasil menenggelamkan 1% dari total kapal Sekutu yang berlayar di Samudera Atlantik! Sebenarnya pula B-Dienst (intelijen Jerman) pun telah berhasil membongkar kode Royal Navy, dan mereka selalu sebisa mungkin memberitahu Dönitz akan konvoy-konvoy yang melintasi lautan. Adalah suatu hal yang luar biasa bahwa Jerman tidak pernah mendengar bocoran informasi yang berasal dari Enigma di sinyal-sinyal yang dikirimkan Angkatan Laut Sekutu!












Sedikit catatan, Baby :





Pada tanggal 14 Oktober 1939 jam 01.16 kapal perang Inggris Royal Oak ditorpedo ketika sedang berada di pangkalannya yang “terlindung” di Scapa Flow. Dibutuhkan waktu 15 menit bagi kapal ini untuk sekarat dan kemudian nyungsep ke dasar sedalam 15 fathom (depa). 833 orang awak kapal ikut tenggelam bersamanya. U-boat yang bertanggungjawab atas hal ini adalah U-47 di bawah komandan Günther Prien.








Ini bukanlah korban pertama Prien. Tanggal 3 September 1939, di hari yang sama ketika Inggris dan Prancis mendeklarasikan perang terhadap Jerman, Günther Prien menenggelamkan Bosnia, kapal dagang Inggris. Dua hari kemudian dia menambah dua kapal lagi dalam daftar korbannya. Sekembalinya dari Scapa Flow, Prien dielu-elukan layaknya pahlawan, dan dia dianugerahi Ritterkreuz yang disematkan langsung oleh Adolf Hitler. keputusannya untuk menyerang Scapa Flow memang bukan suatu hal yang main-main, dan bahkan Winston Churchill sendiri mengakui bahwa hanya orang-orang bermental baja yang berani menerobos pangkalan Angkatan Laut Inggris yang paling banyak mendapat penjagaan tersebut!








U-31 menanamkan sejumlah ranjau laut di Loch Ewes, yang berakibat dengan rusaknya kapal perang HMS Nelson dan tenggelamnya dua buah kapal penyapu ranjau yang ditugaskan untuk membersihkannya!








U-21 menanamkan ranjau-ranjau di Firth of Forth, yang kemudian mematahkan bagian belakang HMS Belfast dan menenggelamkan dua buah kapal lainnya.








Di bulan Juni 1940, Prien diserahi tanggung jawab untuk memimpin sebuah “grup” U-boat yang terdiri dari U-47 dan enam kapal selam lainnya. Grup ini bertanggung jawab atas tenggelamnya 32 kapal dagang dengan total tonase 175.000 ton!








Prien menenggelamkan 4 dari 5 kapal yang hilang dari konvoy SC2 di bulan Agustus 1940.








Prien juga orang pertama yang memergoki konvoy HX79, yang lalu meminta bantuan 5 U-boat lainnya. 14 kapal tenggelam dalam pembantaian yang kemudian terjadi, dengan 3 diantaranya dibukukan oleh Prien sendiri.








Tanggal 6 Maret 1941 Prien memergoki konvoy OB293, dan seperti biasa meminta bantuan 4 kapal lain untuk ikut dalam penyerangan. Meskipun kemudian konvoy ini kehilangan 4 buah kapalnya, tapi mereka tetap bertahan dengan gigih. Akibatnya, pihak Jerman kehilangan 1 buah U-boatnya dan 1 lagi rusak parah. Dengan tetap memposisikan konvoy tersebut dalam penglihatannya, Prien bergerak untuk menentukan sasaran selanjutnya dengan menggunakan kecepatan permukaan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Hal fatal kemudian terjadi. HMS Wolverine mengejutkannya dan kemudian menenggelamkan U-47 bersama seluruh awaknya termasuk Günther Prien. Terjadi perdebatan kemudian karena beberapa pihak berpendapat bahwa yang membuat U-47 tenggelam bukanlah kapal musuh melainkan karena torpedonya yang menjadi senjata makan tuan. Hal ini tidak pernah dapat dibuktikan, dan yang mendapat kredit sebagai penyebab tenggelamnya U-47 tetaplah Wolverine.








Dalam karirnya, Korvettenkapitän Hans-Günther Prien berhasil menenggelamkan 30 buah kapal dengan total tonase 193.808 ton. Selain itu, dia juga merusakkan 8 kapal lainnya dengan total tonase 62.751 ton. Atas prestasinya ini, dia dianugerahi Eichenlaub secara anumerta.








Jago U-boat terbesar Jerman dalam Perang Dunia II (bila dilihat dari skornya) tak diragukan lagi adalah Fregattenkapitän Otto Kretschmer, yang lebih dikenal sebagai “Serigala Atlantik”. Dia berhasil ditawan hidup-hidup dan dipenjarakan di Kanada. Orang-orang membicarakan dengan penuh kekaguman tentang U-99 yang membawa “Ladam Kuda Emas” di menara pengawasnya, juga tentang komandannya yang mendapat respek tinggi baik oleh kawan maupun lawan karena bertempur dengan penuh kehormatan dan kemanusiaan. Kretschmer biasa membawa kapal selamnya berdampingan dengan kapal yang baru ditenggelamkannya, lalu memberikan rokok, brandy dan peralatan medis pada para awak yang berada di perahu penyelamat sekaligus memberitahukan mereka rute pulang!








Hebatnya lagi, perang Kretschmer tidak berakhir setelah dia dipenjara. Dari kamp tawanannya di Kanada, dia mengorganisasikan sebuah grup spionase yang luar biasa efisien dan mengagumkan, yang biasa mensuplai Berlin dengan data-data militer rahasia Sekutu yang berlimpah dan, inilah yang membuat kita geleng-geleng kepala, akurat! Keterangan detailnya bisa kita temukan dalam buku karangan Terence Robertson berjudul “The Golden Horseshoe”. Sayangnya, sama seperti buku-buku masterpiece karangan Walker RN, buku ini pun sudah langka di pasaran dan tidak diproduksi kembali.








Setelah perang berakhir, Otto Kretschmer menjadi seorang diplomat. Rekaman wawancara bersamanya dan para komandan U-boat lain yang selamat dapat disaksikan dalam sebuah video dokumenter yang TOP BGT BLG (Top Banget Belegug) berjudul “Battle of the Atlantic” keluaran Luther Pendragon Priduction tahun 1995 (RGI 3037) dengan narasi dari Julia Somerville yang bisa dibeli dengan harga £13.99. juga termasuk dalam video ini adalah beberapa rekaman langka dari pembunuh U-boat yang top markotop, Kapten Johnnie Walker (ketemu lagi dah sama orang ini!) saat sedang beraksi.







Sumber :

www.en.wikipedia.org

www.uboataces.com

www.bbc.co.uk

www.britannica.com